Selasa, 04 Januari 2011

[Sinopsis] Bread Love And Dreams (Baker King) 13

Presdir berseru memanggil Bibi Gong dan bertanya apakah Bibi Gong melihat sesuatu yang aneh pada pigura poto nenek saat Bibi Gong menaruhnya di meja upacara. “Tidak, tidak ada yang salah saat saya meletakkannya di meja. Kenapa? Apakah saya sudah melakukan kesalahan”, kata Bibi Gong. Presdir berpikir serius tentang pigura poto nenek yang sudah terpotong ketika jatuh [tapi dia ga bakalan curiga sama Bibi Gong]. Sementara itu, Kim Mi Sun yang duduk di dalam mobil berkata pada orang yang ada di depannya,”Sekarang tidak apa-apa. Ayo pergi”
Tak Gu segera dilarikan ke rumah sakit, Bos Yang,Jin Gu dan juga Mi Sun J sangat cemas pada kondisi Tak Gu. Dokter langsung menangani Tak Gu yang masih belum sadarkan diri.


Nyonya Boss, paman Gap Soo dan Jae Bok membersihkan dapur yang kacau balau habis terbakar sedangkan kakek memeriksa setiap detil bekas oven yang meledak. Nyonya Boss kesal dan terus mengomel bagaimana Jin Gu bisa membuat kesalahan fatal seperti itu, padahal biasanya dia adalah orang yang paling teliti di Pal Bong Bakery. (soalnya udah menyangkut sama Tak Gu siihh, jadinya Jin Gu agak lupa diri dan ga mriksa keadaan sekitar) Paman Gap Soo justru bersyukur mereka masih bisa selamat, karena mendengar ledakan yang begitu kerasnya, dia mengira kalau-kalau ada yang meninggal. Paman Gap Soo juga menyalahkan Tak Gu atas semua musibah yang menimpa Pal Bong Bakery, karena menurutnya sejak Tak Gu datang, bencana terus menerus menimpa Pal Bong Bakery. Nyonya Boss setuju dengan pendapat Paman Gap Soo, dia menambahkan,”Daripada memanggilnya Kim Tak Gu, kita seharusnya memanggil dia Kim Pembuat Masalah” (wkwkwkw… belum tahu mereka kalau Tak Gu justru akan menjadi bintang keberuntungan bagi mereka… sabar… sabar…)
Kakek masih serius dengan investigasinya dan dia menemukan sesuatu yang aneh, ternyata pipa gas ovennya sudah disilet!! (itu artinya, kebocoran gas yang menyebabkan ledakan itu memang direncanakan oleh seseorang!! Hmm…. Kira-kira pelakunya siapa ya?)
Jin Gu terus saja menyalahkan dirinya atas musibah ledakan yang terjadi, dia merasa sangat bersalah pada Tak Gu,”Ini semua salahku. Aku biasanya mengecek gas nya terlebih dahulu, tapi hari ini aku sudah ceroboh”, ratap Jin Gu pilu. (ga tega nih ama Jin Gu oppa… bukan dirimu ko yang ngebuat Tak Gu jadi seperti itu… tenanglah Jin Gu oppa) Boss Yang menenangkan Jin Gu dan berkata kalau itu bukan salah Jin Gu sepenuhnya, bagaimanapun juga itu adalah kecelakaan. Dokter selesai menangani Tak Gu, Boss Yang dan yang lain langsung menghampiri dokter itu dan bertanya keadaan Tak Gu. 
Dokter : “Luka bakarnya tidak seberapa, jadi akan pulih dalam waktu 2 minggu”, mereka bertiga menarik nafas lega dan tersenyum…tapi… dokter masih belum selesai bicara,”Tetapi masalahnya bukan pada luka bakar, melainkan di matanya. Sepertinya, ledakan itu sudah melukai mata Tak Gu. Kami tidak bisa bilang apakah itu hanya gejala sementara dari luka bakar atau benar-benar sudah merusak matanya. Kalian harus memeriksanya lebih lanjut di rumah sakit yang lebih besar dan lengkap di Seoul”. Kata-kata dokter itu seperti palu yang menghantam hati Boss Yang, Mi Sun dan Jin Gu (biar kata lebay… tapi emang begitu ceritanya), terutama Jin Gu [yang merasa sebagai pihak yang bersalah atas kejadian itu]
Tanpa kata, mereka bertiga lalu masuk ke kamar perawatan Tak Gu, melihat iba pada Tak Gu yang terbaring dengan mata yang diperban kain kassa. Tak Gu yang mendengar pintu dibuka bertanya pada orang yang dikiranya dokter,”Dokter, berapa lama aku harus diperban seperti ini? Mataku yang tertutup ini membuatku frustasi. Aku bisa melepasnya hari ini juga kan?” Sunyi… tak ada jawaban yang terlontar dari mulut mereka, mereka bertiga tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Tak Gu dalam kondisinya yang seperti itu. Mi Sun sepertinya adalah yang paling emosional di antara mereka bertiga saat itu, dia sudah ingin menangis, tapi ditahannya agar tidak menangis di depan Tak Gu.
Tak Gu bertanya lagi karena tidak ada jawaban, dia lalu menebak [dengan tepat], “Apakah itu kau, Kedelai Jatuh? [panggilan Tak Gu untuk Mi Sun]”. Mi Sun buka suara juga akhirnya. ”Ya”, jawab Mi Sun pelan dengan air mata yang sudah mengambang di pelupuk mata. Tak Gu tersenyum mendengar suara Mi Sun. Mi Sun lalu mendekati Tak Gu dan memberanikan diri berkata,”Ayo pergi ke rumah sakit yang lebih besar bersama besok pagi. Dokter bilang kau perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, Untuk mengetahui apakah hanya luka bakar ataukah… ada kerusakan yang lain”. Tak Gu pura-pura tidak mendengar omongan Mi Sun, dan malah bicara hal yang lain.
Tak Gu lalu bangun dan melepas infusnya, dia juga berusaha membuka perban yang menutup matanya untuk membuktikan pada Mi Sun bahwa dia baik-baik saja dan tidak memerlukan pemeriksaan lain, karena dia Kim Tak Gu! Mi Sun dan Boss Yang sudah cemas dan berusaha menghalangi Tak Gu membuka perbannya, Tak Gu kesal karena dihalangi dan membuka perbannya sendirian, tapi saat dia membuka matanya, Tak Gu merasa matanya sangat sakit! Tak Gu berteriak kesakitan sambil memegang matanya, Boss Yang berseru memanggil dokter, Mi Sun menutup mulutnya tak tega melihat Tak Gu menderita seperti itu. Sedangkan Jin Gu hanya diam, masih merasa sangat bersalah. Tak Gu terus berteriak histeris dan minta penjelasan dokter tentang matanya.
Manager Han yang masih lembur di kantornya mendapat telepon,”Halo… Baik, aku mengerti. Aku akan deposit sesuai yang kujanjikan. Kerja bagus”,kata Manager Han pada orang di seberang telepon. (hmmm… sudah jelas kan sekarang, siapa dalang dari kejadian itu, tak diragukan lagi!)
Kata-kata Nyonya Seo terngiang dalam telinga Manager Han [Pertaruhkan hidupmu. Pertaruhkan hidupmu dan hentikan anak itu. Mengerti?] Manager Han lalu berkata,”Aku sudah mempertaruhkan segalanya. Aku sudah membuang hidup dan harga diriku. Untuk Ma Jun dan… untukmu [Nyonya Seo]”
Nyonya Seo bangun dari tidurnya (mukenya pucet banget euy… udah kayak hantu ajah) dan mengingat tragedi jatuhnya pigura nenek dan surat kaleng yang diterimanya. Nyonya Seo kemudian keluar kamar, menuju kamar nenek!!  Ma Jun yang juga belum tidur melihat ibunya yang pergi ke kamar mendiang nenek dan mengikutinya. Nyonya Seo melangkah pelan masuk ke kamar nenek, tangannya terkepal [sebenarnya dia gemetaran dan ketakutan, tapi mungkin ini sebagai shock terapi kali ya] Nyonya Seo berkata pada [pigura poto] nenek : “Kau kira aku akan takut dengan hal semacam ini? Kau pikir aku akan meringkuk ketakutan Ibu? Tidak mungkin. Maafkan aku, tapi kau sudah mati dan aku masih hidup. Dan aku sudah datang ke sini. Aku tidak punya niat untuk mundur. Aku akan melakukan apapun yang diperlukan dan membuat Ma Jun menjadi sukses. Lihat saja Ibu!” Selesai mengungkapkan isi hatinya, tangan Nyonya Seo masih saja gemetaran, dia tidak sadar kalau Ma Jun mencuri dengar semua kata-katanya.
Yu Kyung masih lemas, dia merenung di kamarnya. Ahjumma [bibi] kontrakan mengetuk-ngetuk pintu kamar Yu Kyung dan menagih uang kontrakan Yu Kyung yang telat dibayar [lagi]. Yu Kyung hanya bisa minta maaf dan mendengarkan omelan ahjumma itu, dia berjanji akan membayarnya kalau dia sudah punya uang minggu depan. Ahjumma itu lalu pergi, dan ternyata di balik pintu kontrakannya, Ma Jun sudah menunggu Yu Kyung dan mengajaknya untuk keluar minum.
Ma Jun mengajak Yu Kyung ke sebuah bar malam, Yu Kyung merasa asing dan tidak nyaman berada di tempat itu, dia enggan untuk masuk. Ma Jun lalu menarik tangan Yu Kyung dan mengajaknya duduk. Ma Jun memesan bir dan mereka akhirnya minum berdua. Yu Kyung yang masih kesal pada Ma Jun [karena ibunya] bertanya sinis,”Jadi, apa yang akan pertama kali kau lakukan untukku? Pakaian dulu, atau uang dulu? Atau kau akan membayar kontrakanku dulu? Apa yang bisa kau lakukan untukku?”.  Ma Jun tidak mengerti maksud Yu Kyung (aku aja ngerti kok) “Kau bilang kau akan melakukan apapun untukku”, lanjut Yu Kyung masih dengan muka dingin. Ma Jun:  “Tergantung bagaimana kau memulainya. Apa kau mulai dengan kiss atau apa kau mulai dengan malam malam pertama yang bergairah?”. Yu Kyung tersenyum tak percaya mendengar omongan Ma Jun.
Ma Jun yang kemudian terkejut mendengar pernyataan balik Yu Kyung,”Baiklah, kedengarannya bagus. Kiss, malam bersama, aku bisa memberikan padamu semua itu. Sebaliknya, bagiku… untuk menyukaimu atau hanya untuk melihatmu. Jangan berharap seperti itu. Bahkan, jangan pernah berpikir untuk mencampuri siapa yang ada dalam hatiku, atau siapa yang memiliki hatiku. Jika kau mulai seperti itu, itu akan melelahkan. Apa yang akan kau lakukan? Bagaimana kita mulai?”.  Ma Jun benar-benar kesal dengan kata-kata Yu Kyung barusan [dia mengira Yu Kyung benar-benar mau melakukan itu, padahal…] Ma Jun lalu beranjak pergi. Yu Kyung ternyata memang hanya menggertak, karena tangannya juga gemetar.
Pal Bong Bakery masih tutup karena tragedi oven meleduk. Jin Gu menginvestigasi oven meleduk itu. Kakek berbicara berdua dengan Boss Yang [yang tentu saja dicuri dengar oleh Paman Gap Soo] dan mengungkapkan temuannya, Boss Yang kaget mengetahui kalau memang ada yang sengaja membocorkan gas. Kakek menyuruh Boss Yang untuk mengurus pengobatan mata Tak Gu dulu, baru membicarakan hal yang lain. (Kakek kan udah sayang banget sama Tak Gu sejak Tak Gu masih kecil, jadi ga heran lah ^__^)
Paman Gap Soo membocorkan informasi yang dia dapat pada Ma Jun, Jae Bok dan Nyonya Boss. (Paman Gap Soo ini emang jagonya gossip di PBB, wkwkwk cocok banget ama namanya Gap Soo=Gosip, hihihi) Ma Jun lalu bertanya tentang keberadaan Tak Gu (Ma Jun kayaknya khawatir juga nih ama Tak Gu) “Itu masih misteri. Dia menjadi sedikit aneh”, jawab Paman Gap Soo.
Ternyata uri Tak Gu sedang makan berdua dengan Mi Sun. Tak Gu makan dengan meraba-raba [tapi indra penciumannya masih berjalan dengan sangat baik kok]. Mi Sun membantu Tak Gu dengan menaruh daging ke sendok Tak Gu. Tak Gu makan dengan [lumayan] senang, tapi moodnya langsung berubah saat Mi Sun masih juga membujuknya untuk  pengobatan ke rumah sakit di Seoul. Tak Gu beranjak dari duduknya dan berusaha pergi ke kamarnya, tapi dia tersandung-sandung. (poor Tak Gu…)
Mi Sun mengikuti Tak Gu ke kamar dan berusaha membujuk Tak Gu lagi, Tak Gu tetap tidak mau. “Aku tidak mau membuang uang untuk hal yang tidak berguna. Dan juga aku tidak punya uang untuk itu”, kata Tak Gu keras kepala. (hiks hiks… Tak Gu kan nabung uangnya buat nemuin maminya, jadi dia ga mau make uang itu) Boss Yang datang dan memaksa Tak Gu untuk menurut agar matanya bisa pulih. Tak Gu kekeuh tidak mau ke rumah sakit. Boss Yang tak sabar lagi (saking sayangnya Boss Yang ama Tak Gu), dia menarik krah kaos Tak Gu dan berseru,”Tak Gu, kenapa kau bergitu berkepala babi? [berkepala babi adalah ungkapan yang suka digunakan oleh orang korea untuk menyebut orang yang keras kepala] Apa yang akan kau lakukan jika ada sesuatu yang salah dan matamu jadi buta? Hentikan keras kepalamu, ikuti kami dan lakukan pemeriksaan”. Tak Gu tetap tidak mau pergi ke rumah sakit karena dia takut, Tak Gu takut akan mendengar hal yang buruk dari dokter, dia takut mendengar kalau matanya benar-benar akan buta, dia takut tidak bisa lagi melihat wajah ibunya. (Yoon pinter banget sih bikin orang nangiss… hiks hiks…)
Tak Gu : “Aku tidak yakin. Sekarang, aku baru saja ingin melakukan sesuatu [membuat roti] Aku punya mimpi, harapan, untuk pertama kalinya dalam hidupku. Jika mereka mengatakan aku tidak bisa melihat lagi… Aku tidak punya lagi keyakinan untuk hidup setelah kehilangan segalanya lagi. Jadi… tolong tinggalkan aku sendirian. Sampai aku bisa membuat diriku sendiri percaya bahwa aku baik-baik saja, jadi tolong tinggalkan aku sendiri!”
Boss Yang melunak, Mi Sun juga terharu mendengar Tak Gu. Tak Gu menghapus air matanya dan tersaruk-saruk keluar dari kamar, dia jalan sambil meraba-raba dinding, tangannya menyentuh wajah seseorang, begitu tahu kalau itu adalah Ma Jun, Tak Gu langsung menarik tangannya dan melangkah lagi. Ma Jun berkata sinis pada Tak Gu,”Jadi, kau menyerah? Jika kau akan menyerah bahkan saat belum mulai, katakan padaku”. Tak Gu tidak menanggapi Ma Jun dan terus saja berjalan [tertatih-tatih] (jangan menyerah Tak Gu… fighting!! fighting!!)
Manager Han bertemu dengan anak buahnya. Anak buahnya minta maaf karena belum bisa menemukan orang yang mengirim surat kaleng pada Nyonya Seo. Manager Han lalu menyuruh anak buahnya itu untuk mencari Kim Mi Sun, ibu Kim Tak Gu yang menghilang 12 tahun yang lalu.
Kim Mi Sun keluar dari mobil dan masuk ke hotel. Presdir juga baru selesai meeting di hotel yang sama. Saat pintu lift akan ditutup, presdir seolah-olah melihat Mi Sun, dia terkejut dan segera keluar dari lift untuk mencari Mi Sun. Setelah mencari ke sana kemari, presdir tidak juga menemukan Mi Sun. Presdir sakit kepala, dia merasa seperti mimpi. Manager Han dan staffnya bingung melihat Presdir mereka. Presdir tidak percaya kalau yang dilihatnya tadi adalah Mi Sun,”Itu tidak mungkin dia”, gumam Presdir.
Orang yang baru saja meeting dengan presdir tadi [Presdir Na] masuk ke suatu ruangan dan melaporkan hasil meetingnya pada Dokter Yoon!! Dan di belakang mereka, duduklah wanita yang dicari-cari Presdir tadi, Kim Mi Sun. Kim Mi Sun ternyata memiliki gangguan penglihatan, dia tidak bisa melihat dengan jelas. Kim Mi Sun dan Dokter Yoon rupanya sedang berupaya mengumpulkan saham Geosung dengan trik berinvestasi menggunakan perantara Presdir Na. Tapi mereka harus menunggu setidaknya 2 tahun, untuk bisa mendapatkan saham itu.
Nyonya Seo ngobrol dengan Ja Rim dan tanya tempat tinggal Yu Kyung. (firasat buruk nih…) Ja Rim berusaha membela Yu Kyung, tapi Nyonya Seo langsung memotong dan memaksa Ja Rim untuk mengatakan tempat tinggal Yu Kyung. Ja Rim tentu saja tidak bisa membantah. 
 Yu Kyung mendatangi Pal Bong Bakery dengan membawa sesuatu [untuk Tak Gu tentu saja], tapi tidak seperti biasanya karena Pal Bong Bakery masih tutup dan gelap.
Tak Gu bangun dari tidurnya, mengambil pigura foto ibunya dan memasukkannya ke dalam tas, lalu keluar dari kamar. Ma Jun membuka matanya [dia tidak tidur juga ternyata]. Tak Gu jalan pelan-pelan meraba dinding, Ma Jun membuka pintu dan mengamati Tak Gu. Tidak hanya Ma Jun ternyata… Paman Gap Soo, Jae Bok, Jin Gu dan Mi Sun juga melihat dan mengawasi Tak Gu yang turun. (scene ini konyol dan keren banget dah, abisnya ga tau mau ketawa apa sedih, ngeliat Tak Gu dan dengerin ostnya sedih…tapi liat kepala-kepala yang nongol jadi pengen ketawa juga, lucu abisnya…Baker King emang satu2nya yang bisa membuatku tertawa dan sedih saat bersamaan)
Tak Gu kepeleset di tangga, dia terjatuh gedebuukkk… membuat kakek dan Boss Yang juga terbangun. Karena penasaran [dan khawatir], semua orang mengikuti Tak Gu keluar rumah.
Yu Kyung ternyata masih duduk di luar PBB, dia beranjak pergi tapi terhenti karena lampu PBB menyala. Yu Kyung melongok ke dalam dan melihat Boss Yang, Paman Gap Soo, Jin Gu, Mi Sun, Jae Bok dan Ma Jun naik ke dapur PBB.
Tak Gu masuk ke dapur PBB, meraba-raba, menabrak sesuatu dan kemudian membuka lemari fermentasi. Tak Gu mencium aroma adonan yang terfermentasi, dia tersenyum dan menyapa adonan itu dengan sayang,”Hai nak… Kau baik-baik saja kan?” (Tak Gu masih waras kok, tenang saja…)
Tak Gu mengambil adonan tadi, menaruhnya di meja dan mempersiapkan peralatan layaknya akan membuat roti. Semua orang mengamati apa yang dilakukan oleh Tak Gu. Tak Gu bersiap, mengusap-usap tepung ke tangannya dan mulai membentuk adonan tadi dengan terampil. Semua orang memperhatikan Tak Gu dengan seksama dan mereka kagum. (gile aja, jelas kagum lah, membentuk adonan dengan mata tertutup gitu)
Saat membentuk adonan itu, Tak Gu teringat percakapannya dengan kakek beberapa waktu lalu.
Tak Gu : Aku hanya melihat dia [Presdir] membuat roti satu kali. Tetapi dia terlihat begitu mengagumkan, aku tidak pernah bisa melupakannya.
Kakek : Jadi, kau membuat yang seperti ini sebagai kebiasaan selama 12 tahun? Kau bilang kau membenci roti sampai mati.
Tak Gu : Yang aku buat bukanlah roti. Aku membuat kenangan bersama orang itu.
Tak Gu tersenyum… adonan-adonan tadi selesai dibentuk. Sepertinya semua orang juga ikut terharu. “Selesai. Sudah selesai sekarang”, kata Tak Gu dengan air mata yang menetes dari matanya. Dia melangkah dan mengambil tasnya. Sebelum pergi Tak Gu menghadap ke adonan-adonan tadi dan membungkuk hormat!!, “Terima kasih untuk semuanya! Selesai… selesai sekarang…”, kata Tak Gu terisak.
Bos Yang lalu menghentikan langkah Tak Gu, Tak Gu kaget mendengar suara Bos Yang. ”Apa yang kau katakan sudah selesai? Kemampuan yang minim. Bentuk yang berbeda-beda dan kau membuatnya sesuka hatimu?”, kata Bos Yang. Tak Gu membungkuk minta maaf pada Bos Yang. Bos Yang gemas melihat Tak Gu, dia lalu memanggil Jin Gu dan menyuruhnya untuk memanaskan oven. Bos Yang juga menyuruh Mi Sun untuk meletakkan adonan yang dibentuk Tak Gu tadi di lemari fermentasi. Bos Yang berkata pelan,” Hanya karena kau membuat adonan, itu tidak akan langsung menjadi roti”. “Tentu saja!! Roti sudah selesai dibuat jika sudah dipanggang, jadi kau baru  bisa menyebutnya roti”, imbuh Paman Gap Soo. Tak Gu tak bisa berkata apa-apa lagi.
Yu Kyung masuk ke Pal Bong Bakery (ko ga dari tadi ya?)
Roti Tak Gu sudah selesai dipanggang, Mi Sun meletakkannya di depan meja. Bos Yang menyuruh semua orang untuk mencicipi roti yang dibuat oleh Tak Gu pertama kali itu dan memberikan evaluasinya. (huwaa…. Ngiler ni ngeliat rotinya, pengen nyicip juga Tak Gu ya…)
Paman Gap Soo yang pertama kali memberikan komentarnya,”Aigoo… apa ini, ini bubur atau bubur? Kenapa begitu lengket? Menempel di langit-langit mulutku”. Jae Bok yang kedua,”Aku pikir ini karena over-mixxing saat adonan dibuat”. Komentar Mi Sun tak kalah pedas,”Rasanya juga tidak benar, ini hambar”. Giliran Ma Jun,”Warna roti ini terlalu terang, ruang di dalamnya kasar dan tebal”. (wkwkwk… kasian liat mukanya Tak Gu… tapi kan itu komentar yang membangun, jadi tak apalah ^__^) Jin Gu oppa yang baik hati, mencoba memberikan solusi,”Tetapi jika kau menambahkan selai atau krim…”, Bos Yang langsung memotong kata-kata Jin Gu dan menyebut kalau roti Tak Gu mengerikan. (what?? mengerikan? yang benar saja…)
Bos Yang : “Jika kau akan berpartisipasi dalam kompetisi dua tahun mendatang, dengan kemampuanmu yang buruk… bahkan jika kau membuka kedua matamu lebar-lebar dan berlatih hingga tanganmu berkeringat… Kau mungkin bisa berhasil atau gagal, mengerti?”
Tak Gu mengangguk mengerti, tapi dia langsung terkejut sadar (hahaha… I like this ^__^) semuanya juga terkejut. Dengan kata lain, Bos Yang akhirnya mengijinkan Tak Gu untuk mengikuti kompetisi, tapi Tak Gu harus mau menjalani pemeriksaan di rumah sakit Seoul dulu untuk memulihkan matanya. Karena Tak Gu harus bisa melihat agar bisa berlatih dan mengikuti kompetisi. (waahh… akhirnya Bos Yang menunjukkan sisi kebapakannya juga pada Tak Gu, senangnya hatiku)
Tak Gu diam, saking terharunya… sampai tidak bisa berkomentar apa-apa. Mi Sun menoleh dan memanggil Tak Gu karena semua menunggu jawaban Tak Gu. Tak Gu akhirnya buka suara,”Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan di saat seperti ini”. Bos Yang membantu,”Katakan saja, Tolong jaga aku Bos! Itu cukup”. Mi Sun berkaca-kaca senang. Tak Gu dengan terisak dan bersemangat lalu membungkuk menghadap Bos Yang sambil berkata,”Tolong jaga aku Bos!!” Bos Yang mengangguk lega, yang lain juga ikut terharu. Yu Kyung mendengar semuanya juga dengan mata berkaca-kaca.
Kakek keluar rumah, mencium aroma roti dan melihat ke arah dapur Pal Bong Bakery. Kakek tertawa,”Tak Gu ya… ingatlah hari ini”.
Setelah memastikan Tak Gu baik-baik saja bersama keluarga PBB, Yu Kyung pergi dari dapur itu. Mi Sun melihat Yu Kyung yang keluar, lalu dia mengejarnya. Yu Kyung terhenti karena panggilan Mi Sun. Mi Sun cerita kalau mata Tak Gu terluka. “Dia akan baik-baik saja. Jika Dia mengambil mata Tak Gu, Tuhan sungguh tidak adil. Aku masih ingin percaya pada Tuhan, jadi… Tak Gu akan baik-baik saja”,kata Yu Kyung yakin. (Yu Kyung sebenarnya juga ingin ketemu Tak Gu, tapi dia tidak mau Tak Gu dilukai oleh Ma Jun lagi gara-gara dirinya) Yu Kyung lalu menitipkan sesuatu untuk diberikan pada Tak Gu, setelah mata Tak Gu kembali pulih.  Yu Kyung lalu pamit pergi pada Mi Sun. Hujan kemudian turun dengan deras, Mi Sun mengkhawatirkan Yu Kyung yang terus berjalan dalam hujan.
Yu Kyung sampai di kontrakannya dan kaget ketika mendapati barang-barangnya ada di luar rumah dan basah kehujanan. Yu Kyung meminta penjelasan pada ahjumma kontrakan, ahjumma kontrakan itu minta maaf pada Yu Kyung karena dia harus mengeluarkan barang-barang Yu Kyung, ada yang mau menempati kontrakan Yu Kyung dengan harga yang mahal, jadi dia terpaksa mengeluarkan barang Yu Kyung. Ahjumma itu lalu memberikan sebuah amplop pada Yu Kyung. Yu Kyung melihat amplop itu dan hatinya langsung geram, amplop dari Geosung!!
Yu Kyung kedinginan dan duduk di depan rumah kontrakannya, dia menggenggam erat amplop dari Nyonya Seo. (tambah sebel banget tuh pasti sama Nyonya Seo)
Sementara Yu Kyung kehujanan dan kedinginan di luar, Nyonya Seo duduk manis menikmati teh hangatnya dan tersenyum puas. Nyonya Seo yakin Yu Kyung akan mengerti dan tidak akan berani lagi mendekati Ma Jun. (hati-hati saja Nyonya Seo… hati-hati dengan hati orang yang tersakiti) Ja Rim melihat ibunya dan merasa cemas dengan keadaan Yu Kyung. (dulu aku suka Ja Rim kecil yang netral, tapi Ja Rim yang dewasa sepertinya tidak lagi punya pendirian)
Saat sarapan pagi, Nyonya Seo bicara pada Presdir dan mengajak seluruh keluarga [termasuk Ma Jun] untuk liburan ke Hawai. Ja Rim yang paling antusias. Nyonya Seo membanggakan Ma Jun yang pulang ke Korea untuk belajar di tempat Guru Pal Bong. Nyonya Seo lalu meminta pada Presdir agar memasukkan Ma Jun ke dalam perusahaan Geosung. Presdir menolak halus permintaan Nyonya Seo tersebut dan tidak ingin membicarakannya saat mereka sedang makan. Nyonya Seo kecewa dengan penolakan Presdir [lagi] dan mengancam akan menggunakan haknya sebagai pemegang saham. Presdir dengan tenang menanggapi ancaman Nyonya Seo itu.
Presdir masuk ke ruang kerjanya, dia masih memikirkan wanita yang dilihatnya seperti Kim Mi Sun di hotel tempo hari. Lalu Presdir ingat telepon Jin Gu 12 tahun lalu yang mengabarkan kalau Mi Sun mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang. 
Tak Gu menjalani pemeriksaan dan perawatan di Rumah Sakit Seoul, dia masih belum bisa melihat dengan jelas. Ternyata, saat itu Kim Mi Sun bersama Dokter Yoon juga datang ke rumah sakit yang sama untuk memeriksakan mata Kim Mi Sun. Dokter memberikan penjelasan pada Bos Yang dan Mi Sun, sedangkan Tak Gu menunggu di luar.
Suara hati Tak Gu : Bagaimana jika aku tidak bisa melihatnya lagi? Bagaimana jika aku tidak bisa mencari ibuku lagi? Aku memutuskan untuk tidak lagi mengkhawatirkan hal itu, karena aku tahu sekarang aku tidak lagi sendirian. Aku masih punya pekerjaanku, dan dalam pekerjaanku, aku masih bisa menemukan ibuku. Aku tidak ingin kehilangan harapan.
Kim Mi Sun dan Dokter Yoon berjalan melewati Kim Tak Gu!! Dokter Yoon meminta Mi Sun untuk duduk dan menunggu sebentar. (aargghhh…. Ibu dan anak itu sudah begitu dekat) Kim Mi Sun duduk di dekat Tak Gu, tapi mereka saling membelakangi. Kim Mi Sun merasakan sesuatu dan melihat Tak Gu. Tak Gu juga merasakan ada suatu ikatan batin [tapi dia tidak sadar apa itu], Tak Gu menoleh ke arah ibunya. Ibu dan anak itu saling berpandangan, dengan mata Tak Gu yang tertutup oleh perban dan pandangan Kim Mi Sun yang blur.
Akhirnya perban mata Tak Gu dibuka juga. Semua orang H2C menunggu Tak Gu membuka matanya, terutama Mi Sun. Tak Gu pelan-pelan membuka matanya, dia melihat satu per satu orang-orang yang duduk menunggunya, awalnya pandangan mata Tak Gu masih blur. Tetapi ketika melihat Kakek Bong untuk yang kedua kali, pandangan Tak Gu mulai jelas kembali. Tak Gu terus menatap Kakek Bong tanpa henti, membuat semua orang ikutan melihat Kakek Bong dan tambah cemas saat melihat Tak Gu menangis.
Mi Sun bertanya khawatir,”Apa yang terjadi? Kau tidak bisa melihat dengan baik?”. Semua masih H2C menunggu Tak Gu. Tak Gu lalu mengusap air matanya dan menatap Mi Sun,”Pipimu… semakin chubby sejak aku tidak melihatmu”, kata Tak Gu jail. Mi Sun menyentuh pipinya dan sadar, dia tersenyum senang dan bertanya,”Kau bisa melihat? Kau benar-benar bisa melihat?”. “Ya, aku melihat semuanya. Aku bahkan bisa melihat lada yang menempel di gigimu”, jawab Tak Gu. Mi Sun langsung menutup mulutnya [malu] dan memukul lembut kepala Tak Gu.
Tak Gu berterima kasih dengan tulus pada Mi Sun, juga pada semuanya,”Terima kasih banyak. Terima kasih semuanya! Aku bisa hidup kembali”. Saking semangatnya berterima kasih, jidat Tak Gu sampai kejedot meja. Semua orang ikut tersenyum lega…Kakek bahkan menitikkan air matanya. (wkwkwk… co cweet banget nih ^__^)
Mi Sun menyerahkan bungkusan Yu Kyung pada Tak Gu,”Yu Kyung meninggalkannya di sini. Dia mengatakan untuk memberikannya padamu ketika matamu sudah pulih”,kata Mi Sun. Tak Gu langsung membuka kado itu. Dia menemukan topi putih dan ada note di dalamnya, Tak Gu membaca note itu [Topi ini akan membawa keberuntungan untukmu]. Tak Gu lalu melihat topi putih itu dan di topi itu tertulis “Baker King Kim Tak Gu”, Tak Gu terpana menatap topi itu. Melihat Tak Gu yang terdiam, Mi Sun jadi kikuk dan pergi meninggalkan Tak Gu untuk sendirian.
Ja Rim datang ke PBB untuk menemui Ma Jun. Ja Rim cerita kalau ibu mereka tanya padanya tempat tinggal Yu Kyung. Ma Jun sangat marah saat mengetahui Ja Rim mengatakan kontrakan Yu Kyung pada ibu mereka. Ma Jun langsung meluncur pergi ke kontrakan Yu Kyung. Ja Rim kaget dengan reaksi adiknya itu.
Ma Jun menggedor-gedor kontrakan Yu Kyung dan ahjumma bilang kalau Yu Kyung sudah pindah karena tidak bisa membayar uang sewa.
Ma Jun juga pergi ke kampus Universitas  Korea untuk mencari Yu Kyung. Dia bertanya pada salah satu mahasiswa, dan mahasiswa itu mengatakan kalau Yu Kyung sudah tidak kuliah lagi tapi mahasiswa itu juga tidak tahu keberadaan Yu Kyung. Ma Jun terlihat cemas memikirkan Yu Kyung. (kalo yang ini aku suka nih… Ma Jun tulus)
Ma Jun mengkonfirmasi hilangnya Yu Kyung pada ibunya. Nyonya Seo membenarkan kalau dia yang melakukan semuanya. Ma Jun marah pada ibunya yang sudah mengusik kehidupan Yu Kyung. Nyonya Seo juga kecewa pada Ma Jun karena Ma Jun sudah berubah, anaknya itu bahkan berani menaikkan suaranya ketika bicara dengan ibunya hanya gara-gara seorang wanita. Nyonya Seo menasehati Ma Jun untuk menuruti perintahnya karena semua juga untuk kebaikan Ma Jun sendiri.
Yu Kyung yang dicari-cari ternyata pergi ke Perusahaan Geosung. Yu Kyung memandang gedung Geosung dengan penuh tekad. (wkwkwk… lebay.co.kr)
Tak Gu masih duduk merenung di luar sambil memegang erat topi keberuntungan dari Yu Kyung. Dan akhirnya dia sudah mengambil keputusan. Tak Gu bangkit berdiri dan memakai topi itu dengan mantap. Lalu Tak Gu tersenyum… (so sweet Tak Gu ya… aja aja fighting!! ^__^)
Tubi Kontinyuuttttt ^_______^

0 komen ^__^: